BLANTERVIO103

Kepada Seorang Penyair Muda - Mahmoud Darwish

Kepada Seorang Penyair Muda - Mahmoud Darwish
5/08/2026

Mahmoud Darwish
Kepada Seorang Penyair Muda

Jangan percayai kerangka kami,
lupakan itu
dan mulailah dengan kata-katamu sendiri.
Seakan-akan kaulah yang pertama menulis puisi
atau penyair yang terakhir.

Jika kau membaca karya kami, bukan untuk melanggengkan keangkuhan kami,
tetapi untuk membetulkan kekeliruan kami dalam kitab penderitaan.

Jangan tanyakan pada siapa pun: Siapakah aku?
Kau tahu siapa ibumu.
Adapun ayahmu, dirimulah ayahmu

Kebenaran itu putih, tulislah di atasnya
dengan tinta gagak.
Kebenaran itu hitam, tulislah di atasnya
dengan cahaya fatamorgana.

Jika kau ingin berduel dengan elang,
terbanglah bersamanya.

Jika kau mencintai seorang gadis,
jadilah—bukan dia—
yang menghendaki akhirnya

Hidup tak sehidup yang kita kira, tetapi kita tak terlalu memikirkannya
karena khawatir akan kesehatan perasaan

Jika kau merenungi mawar cukup lama,
kau takkan goyah dalam badai.

Kau sepertiku, tetapi jurangku jelas.
Dan kau memiliki jalan-jalan yang rahasianya tak berkesudahan.
Turun dan naik, turun dan naik.

Kau mungkin menyebut akhir masa muda sebagai kematangan bakat
atau kebijaksanaan.
Tanpa ragu, itu adalah kebijaksanaan yang dingin, tak liris.

Seribu burung di tangan
tak sebanding dengan seekor burung yang mengenakan pohon.

Puisi di masa sulit
adalah bunga-bunga indah di pemakaman.

Panutan tidak mudah dicapai,
maka jadilah dirimu sendiri dan selain dirimu di balik batas gema.

Gairah memiliki tanggal kedaluwarsa jauh yang diperpanjang.
Maka penuhilah dirimu dengan nyala demi hatimu,
ikuti ia sebelum kau mencapai jalanmu.

Jangan katakan pada yang kau cintai: engkau adalah aku
dan aku adalah engkau; katakanlah
sebaliknya: kita adalah tamu
dari kelimpahan, awan yang lekas berlalu

Menyimpanglah, dengan seluruh kekuatanmu, dari aturan.

Jangan letakkan dua bintang dalam satu ujaran,
letakkan yang kecil di samping yang utama
untuk melengkapi gairah yang meningkat.

Jangan percaya ketepatan ajaran kami.
Percayalah hanya pada jejak kafilah.

Kebaikan bagaikan peluru di jantung penyairnya,
kebijaksanaan yang mematikan.
Kuatlah seperti banteng ketika kau marah,
rapuhlah seperti bunga badam
ketika kau mencinta,
dan menjadi tiada, bukan apa pun, ketika kau bercakap dengan dirimu sendiri di ruang tertutup.

Jalan itu panjang seperti malamnya penyair Imru Al Qais:
dataran dan bukit, sungai dan lembah.
Berjalanlah menurut ukuran mimpimu: entah bunga lili yang akan mengikutimu.ataukah tiang gantungan

Tugasmu bukanlah yang membuatku khawatir tentangmu.
Aku mengkhawatirkanmu dari mereka yang menari
di atas kubur anak-anak mereka;
dan dari kamera tersembunyi
di pusar para penyanyi.

Kau takkan mengecewakanku,
jika kau menjauh dari yang lain, dan dariku.
Yang tak menyerupaiku justru lebih indah.

Mulai sekarang, satu-satunya penjagamu adalah masa depan yang terabaikan.

Jangan berpikir, saat kau luruh dalam duka seperti air mata lilin,
siapa yang akan melihatmu atau mengikuti cahaya intuisimu.
Pikirkan: apakah ini seluruh dirimu?

Puisi selalu tak selesai, kupu-kupu yang menyempurnakannya.

Dalam cinta tak ada nasihat, hanya pengalaman
Dalam puisi tak ada nasihat, hanya bakat

Dan akhirnya: Salam.


Penerjemah: Nila Hapsari


MARI BERBAGI:
Editor

TAMBAHKAN KOMENTAR

5700840368070671462